Penyesalan Fergie
5 Oct 2008 | Oleh HR27 | Kategori: Berita![]() |
Sir Alex Ferguson mengaku menyesal telah menyebut Paul Ince “Big-Time Charlie” (slang Inggris untuk menyebut seseorang yang dianggap penting bagi tim atau kelompok tertentu, tapi malah meninggalkan tim/kelompoknya demi mengejar kepentingan pribadi). Fergie membuat komentar itu pada briefing sebelum pertandingan (di ruang ganti tim) - sesaat setelah kepindahan kontroversial Ince ke Liverpool - yang kebetulan direkam oleh kru TV yang sedang membuat film dokumenter tentang MU. Komentar itu melekat pada diri Ince sampai sekarang hingga ia sangat dibenci oleh publik Old Trafford. Sekarang Fergie mengaku bahwa ia seharusnya tidak membuat komentar seperti itu - atau paling tidak melarang kru TV merekam komentar2nya dalam briefing di ruang ganti pemain. “Saya membuat kesalahan dengan menyebut Ince ‘Big-Time Charlie’,” kata Sir Alex. “Dan kami membiarkan kru TV masuk ke ruang ganti pemain. Tapi itu tidak akan terjadi lagi.” |
Fergie juga mengaku bahwa komentarnya itu telah dipakai oleh fans2 MU untuk mengejek Ince, tapi ia juga percaya bahwa Ince pasti akan tetap dibenci oleh fans MU walaupun ia tidak mengeluarkan komentar itu. Ia beralasan bahwa itu adalah resiko mantan pemain MU yang mau bermain untuk Liverpool, atau sebaliknya.
“Fans membencinya karena ia pindah ke Liverpool,” kata Fergie. “Tidak peduli siapapun dia, bila ada mantan pemain MU mau bermain untuk Liverpool, pasti dibenci oleh fans. Begitu juga sebaliknya (pemain Liverpool pindah ke MU).”
Melihat komentar2 Fergie (dulu) dan kepindahannya yang mengejutkan ke Inter Milan tahun 1995, banyak orang mengira hubungan antara Fergie dan Ince akan sulit diperbaiki lagi. Yang terjadi malah sebaliknya. Selama beberapa bulan terakhir Ince telah beberapa kali menelepon Fergie untuk meminta nasehat, walaupun mereka semestinya adalah rival; apalagi Blackburn Rovers berposisi lebih baik dari MU di klasemen sementara Liga Inggris.
“Saya tidak punya masalah dengan Ince, ataupun dengan ego-nya,” kata Fergie. “Anda tidak bisa terus2an “berbulan madu” dengannya karena ia sangat mudah berubah pendirian. Tapi ia pemain yang baik dan tidak pernah mengecewakan kami (saat masih di MU).”
“Pada akhirnya kami mendapatkan penawaran yang sangat menarik dari Inter Milan. Menimbang bahwa kami sudah punya Nicky Butt, Paul Scholes, dan David Beckham, kami memutuskan untuk melepasnya. Kejadiannya kira2 sama dengan yang terjadi pada Jaap Stam beberapa tahun berikutnya. Itu adalah keputusan yang sulit, tapi penawaran mereka sangat tinggi. Pada saat itu kami menganggap itu keputusan yang baik, paling tidak dari segi bisnis.”
Ince adalah salah satu dari 4 mantan pemain United yang menangani klub Premiere League tahun ini bersama Mark Hughes (Manchester City), Steve Bruce (Wigan), dan Roy Keane (Sunderland) - mereka bahkan pernah bermain bersama membawa MU memenangkan Liga Inggris dan Piala FA 1994. Bryan Robson juga punya banyak pengalaman di dunia manajerial sebelum bergabung kembali dengan Setan Merah setelah meninggalkan Sheffield United.
Paul Parker, Gary Palister, dan Denis Irwin bekerja sebagai komentator TV, Andrei Kanchelskis dan Lee Sharpe juga sering muncul dalam beberapa acara TV, Eric Cantona aktif mempromosikan sepak bola pantai - dan bermain film, dan Ryan Giggs masih bermain sampai sekarang.
Hanya Peter Schmeichel yang tidak terjun ke dunia manajemen - walaupun Fergie memperkirakan bahwa ia bisa berhasil di sana. “Ada banyak karakter kuat dalam tim itu (angkatan 1994),” kata Ferguson. “Saya tadinya mengira Peter Schmeichel akan terjun ke dunia manajemen, tapi ia juga tidak jauh dari sana. Kesulitan yang ia hadapi sekarang adalah ia harus membagi waktu antara pekerjaannya di TV Denmark dan mengunjungi anaknya Kasper di Manchester City.”
